Cerpen : Pulang ke Pangkuan Rindu

Pulang ke Pangkuan Rindu


Cerpen oleh: Asroh 


Azan Subuh baru saja selesai berkumandang ketika Hendra menutup laptopnya dengan napas panjang. Layar menunjukkan pukul 04.47 WIB. Di sudut monitor, notifikasi terakhir dari bosnya masih berkedip — "Deadline proposal sebelum kamu mudik, Hen."

Ia bersandar ke kursi. Di luar jendela apartemennya di lantai dua belas, Jakarta belum sepenuhnya terjaga, tapi lampu-lampu jalan sudah berlomba dengan cahaya fajar. Dua puluh hari Ramadan telah ia jalani di kota ini — berpuasa sendiri, berbuka sendiri, tarawih sendiri di mushola kecil dekat minimarket.

Tahun ini harus pulang, batinnya. Harus.


Perjalanan dari Jakarta ke Wonogiri bukan perkara mudah di hari-hari seperti ini. Lebaran 1447 Hijriah jatuh pada akhir Maret, dan seluruh anak bangsa seolah sepakat untuk bergerak bersama — jutaan jiwa yang digerakkan oleh satu magnet bernama kampung halaman.

Hendra memilih bus malam, dua hari sebelum Lebaran. Ia tak mampu membeli tiket kereta yang sudah ludes sejak Januari. Pesawat? Gajinya sebagai staf administrasi di perusahaan logistik belum sampai ke sana.

Di Terminal Lebak Bulus, ia berdiri di antara lautan manusia. Koper besar di sebelah kirinya, tas ransel di punggung, dan di tangan kanannya sebuah kantong plastik berisi oleh-oleh — cokelat premium, kacang mete, dan satu toples kue nastar yang ia beli di toko kue langganan ibunya dulu, sebelum ibu memutuskan untuk tidak pernah keluar kota lagi.

Ibu.

Wajah itu muncul tiba-tiba di benak Hendra — keriput yang mulai merayap di sudut mata, rambut yang kini lebih banyak putihnya, dan senyum yang tak pernah berubah sejak ia kecil. Senyum yang selalu ada di ambang pintu, apapun yang terjadi.

Terakhir kali ia pulang? Lebaran tahun lalu. Dan sebelumnya? Dua tahun absen karena pandemi, karena kerja, karena seribu alasan yang kini terasa tipis seperti kertas.


Bus berangkat pukul sembilan malam. Di kursi sebelahnya duduk seorang perempuan muda menggendong bayi berumur mungkin tujuh bulan. Wajahnya lelah tapi matanya bersinar.

"Mau ke mana, Mas?" tanyanya ramah.

"Wonogiri, Bu. Ibu saya di sana."

"Oh, sama dong. Saya mau ke Klaten. Suami saya sudah duluan naik motor dari kemarin." Ia menyesuaikan posisi bayi di pelukannya. "Ini anak pertama saya. Mau pertama kali ketemu nenek-kakeknya yang di kampung."

Hendra tersenyum memandang bayi itu. "Belum pernah ketemu?"

"Belum. Lahirnya waktu masih lockdown dulu — eh maksudnya, situasi masih susah. Sekarang alhamdulillah sudah bisa pulang." Perempuan itu tersenyum lebar. "Rasanya nggak sabar, Mas. Ibu mertua saya sudah telepon tiap hari dari kemarin. Nangis terus katanya."

Hendra mengangguk. Di dadanya ada sesuatu yang bergetar pelan.


Di luar jendela, tol Trans Jawa membentang panjang. Lampu-lampu kendaraan mengular sejauh mata memandang — truk, mobil pribadi, sepeda motor berpasangan yang bergerak penuh tekad di lajur paling kiri. Ini arak-arakan terbesar yang terjadi setiap tahun, ritual kolektif yang tak ada bandingannya di belahan dunia mana pun.

Mudik.

Hendra meraih ponselnya. Ada pesan dari adiknya, Rini, yang masuk sore tadi:

"Mas, Ibu nanya kamu berangkat jam berapa. Katanya mau masak opor pagi-pagi biar pas kamu sampai, masih anget. Jangan lupa bilang kalau sudah di jalan ya."

Ia membalas dengan sebaris kalimat, tapi tangannya berhenti sejenak. Kemudian ia menambahkan:

"Bilang ke Ibu, maaf ya Hen lama nggak pulang. Kangen banget."

Ia kirim. Lalu ia tundukkan kepala.

Di atas — jauh di atas lampu jalan dan kerumunan manusia — bulan Ramadan yang kesekian terakhir menggantung tipis. Malam-malam terakhir yang paling diburu para hamba, malam-malam yang konon menyimpan satu malam seribu bulan di dalam pelukannya.

Lailatul Qadr.

Hendra tidak tahu apakah ia layak mendapatkannya. Ramadannya tahun ini compang-camping — sahur sering terlambat, tarawih sering bolong karena lelah, tadarus hanya beberapa juz. Tapi ia ingat nasihat ustaz di mushola kecil itu, dua minggu lalu:

"Jangan tanya apakah kamu layak. Tanya apakah kamu mau. Allah tidak butuh ibadah kita yang sempurna — Allah rindu pada hamba yang terus kembali."

Terus kembali.

Seperti mudik, pikirnya. Seperti perjalanan ini.


Subuh menyingsing ketika bus memasuki wilayah Jawa Tengah. Sopir bus mematikan musik dan menyalakan pengumuman kecil: "Bagi penumpang yang ingin salat Subuh, kami akan berhenti sepuluh menit di rest area depan."

Tak banyak yang turun. Tapi Hendra turun. Begitu pula si ibu muda dengan bayinya — ia menitipkan bayi kepada Hendra sejenak sementara ia mengambil air wudu.

Hendra berdiri dengan bayi itu di gendongannya, kikuk tapi berusaha setenang mungkin. Bayi itu memandangnya dengan mata bulat dan polos — tak ada rasa takut, tak ada prasangka. Hanya kehadiran yang jujur.

Kapan terakhir kali aku sejujur ini? pikirnya.

Ia salat Subuh di atas sajadah kecil yang ia bawa dari apartemen. Di sampingnya, beberapa musafir lain juga bersujud — tua, muda, lelaki, perempuan. Semua dalam satu shaf, semua menghadap kiblat yang sama.

Di sujud terakhir, Hendra berdiam lebih lama dari biasanya.

Ya Allah, izinkan aku sampai. Izinkan aku minta maaf kepada Ibu. Izinkan aku pulang bukan hanya ke rumahnya, tapi juga ke-Mu.


Pukul delapan pagi, bus memasuki Terminal Wonogiri.

Hendra turun dengan kaki yang pegal dan mata yang berat. Tapi begitu kakinya menyentuh aspal terminal yang familiar — bau khas debu dan asap knalpot yang entah kenapa terasa seperti parfum — sesuatu dalam dirinya tiba-tiba ringan.

Ia naik ojek online ke rumah ibunya di Dusun Nglaran, dua belas kilometer dari terminal. Jalanan kampung masih lengang — pohon-pohon jati di kanan kiri, sawah yang mulai menguning, dan langit pagi Wonogiri yang biru bersih tanpa polusi.

Rumah itu masih seperti dulu. Cat temboknya sudah agak pudar, tapi pot-pot bunga di teras masih terawat — itu tangan Ibu, Hendra tahu. Ibu tidak pernah membiarkan bunganya layu.

Ia berdiri di depan pintu.

Sebelum ia sempat mengetuk, pintu itu terbuka.

Ibunya — perempuan enam puluh dua tahun dengan rambut putih yang ditata rapi, baju rumahan bermotif batik, dan mata yang seketika berkilat — berdiri di sana.

"Mas Hendra!"

Suara itu. Suara yang sama persis seperti dua puluh sembilan tahun lalu ketika ia pertama kali belajar memanggil nama perempuan ini.

Ibu.

Hendra tidak sempat berkata apa-apa. Ibunya sudah memeluknya terlebih dahulu — pelukan yang kuat untuk perempuan setua itu, pelukan yang menyimpan dua tahun rindu yang tidak sempat terucap.

"Kurus, Le. Kurus banget." Ibu menepuk-nepuk punggungnya. "Makan apa kamu di Jakarta?"

Hendra tertawa. Matanya panas.

"Nggak makan enak, Bu. Makanya pulang."

Pagi itu, dapur rumah ibunya riuh dengan aroma yang Hendra rindukan bertahun-tahun. Opor ayam kampung mengepul di atas kompor. Ketupat sudah digantung matang sejak semalam. Sambal goreng ati yang pedasnya pas — bukan pedas sembarangan, tapi pedas yang tahu kapan harus berhenti.

Adiknya Rini datang bersama suami dan dua anaknya — Naura yang sudah kelas tiga SD dan Gibran yang baru empat tahun. Gibran langsung menempel ke Hendra begitu masuk pintu.

"Om Hendra bawa apa?"

"Gibran!" tegur Rini.

"Biar, biar." Hendra mengangkat Gibran ke pangkuan dan membuka tas oleh-olehnya. "Om bawa cokelat. Tapi nanti habis sarapan, ya."

Gibran mengangguk serius seperti pejabat yang baru menandatangani perjanjian.

Ibu duduk di antara mereka semua, tidak banyak bicara. Ia lebih banyak memandang — dari satu wajah ke wajah lain — seperti seseorang yang sedang menghitung kekayaannya dan mendapati jumlahnya lebih dari yang ia sangka.

"Bu, kenapa nggak makan?" tanya Rini.

"Sudah, tadi." Ibu menggeleng pelan. "Ibu seneng lihat kalian."


Malam takbiran tiba.

Dari mushola kampung yang jaraknya hanya tiga rumah, suara takbir mengalun — Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar...

Hendra duduk di teras bersama ibunya. Langit di atas Wonogiri gelap dan penuh bintang — sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat dari apartemennya yang dikepung polusi cahaya kota.

"Ibu nggak ikut takbiran ke mushola?"

"Nanti." Ibu menggeser duduknya lebih dekat. "Sekarang temenin Ibu dulu."

Mereka diam sebentar. Takbir terus mengalun.

"Mas Hendra," kata ibu akhirnya, dengan suara yang lebih pelan.

"Iya, Bu."

"Ibu nggak pernah marah kamu lama nggak pulang. Ibu tahu kamu kerja keras." Ibu memandang ke langit. "Tapi Ibu selalu berdoa, semoga Allah jaga kamu di sana. Karena Ibu nggak bisa."

Hendra menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

"Ibu doain terus?"

"Setiap habis salat. Tiap malam." Ibu tersenyum, dan dalam senyum itu Hendra melihat sesuatu yang tidak pernah ia pahami sebelumnya — bahwa cinta seorang ibu bukan hanya tentang kehadiran fisik. Bahwa doa adalah bentuk kehadiran yang menembus jarak, menembus tembok apartemen di lantai dua belas, menembus hiruk pikuk Jakarta.

Selama ini ia tidak sendirian. Ia hanya tidak tahu.

"Bu..." Hendra menoleh. "Maafin Hen ya. Untuk semua yang kurang, untuk lama nggak pulang, untuk—"

"Sudah." Ibu menepuk tangannya. "Kamu pulang. Itu cukup."

Di mushola, takbir semakin merdu. Di teras rumah tua itu, dua manusia dari generasi berbeda duduk berdampingan — seorang ibu yang bertahan dengan iman, dan seorang anak yang baru belajar bahwa pulang bukan hanya soal jarak, tapi soal arah.


Malam itu, sebelum tidur, Hendra membuka sajadahnya untuk yang terakhir kalinya di bulan Ramadan.

Ia salat sunnah dua rakaat. Lama. Khusyuk — lebih khusyuk dari yang pernah ia rasakan di apartemennya yang sepi.

Karena di sini, di rumah ini, ia tidak perlu membangun kekhusyukan dari nol. Kekhusyukan itu sudah ada, sudah dibangun bertahun-tahun oleh seorang perempuan yang tidak pernah melewatkan salat, yang menyirami bunganya setiap pagi, yang mendoakan anaknya setiap malam meski anaknya lupa untuk menelepon.

Di sujud terakhirnya, Hendra berbisik:

"Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah."

Tiga kali. Seperti mengucapkan nama yang paling benar untuk semua yang ia rasakan.

Pagi Idulfitri, matahari terbit di atas Wonogiri dengan warna yang tidak ada di kota manapun.

Hendra berdiri di halaman sambil mengenakan baju koko putih yang sudah disiapkan ibunya — dicuci, disetrika, dan digantung rapi di kamarnya sejak kemarin. Ibu tahu aku akan pulang, pikirnya. *Ibu sudah siapkan segalanya.

Dari dalam, suara Gibran terdengar memekik kegirangan karena mendapat angpao dari kakeknya — eh, dari om Hendra. Suara Naura yang membacakan surat pendek dengan lirih sebelum sarapan. Suara Rini yang memarahi suaminya karena kelamaan di kamar mandi. Suara ibu yang menertawakan semuanya dari dapur.

Suara keluarga.

Suara yang selama ini ia tukar dengan keheningan apartemen dan denting notifikasi email.

Hendra menarik napas panjang.

Udara pagi kampung masuk ke paru-parunya — bersih, sedikit dingin, berbau tanah dan dedaunan basah.

Ini dia, pikirnya. Ini yang namanya pulang.

Bukan sekadar kembali ke alamat yang tertulis di KTP. Tapi kembali ke versi dirinya yang lebih jujur, lebih sederhana, lebih tahu apa yang penting dan apa yang tidak.

Kembali ke iman yang tumbuh di rumah ini, yang diajarkan oleh seorang perempuan dengan rambut putih dan senyum yang tak pernah berubah.

Kembali — seperti yang dikatakan ustaz itu — kepada Allah yang selalu menanti.


"Selamat Idulfitri 1447 H.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Minal aidin wal faizin."


— Tamat —



 "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak."
 — QS. Al-Isra': 23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Sastra Sunda Menuju Panggung Nobel: Analisis Potensi dan Tantangan

Mimpi Besar dari Tanah Sunda

Drama Novelet Awal : Perjuangan yang Belum Selesai