G U N U N G E S PEREMPUAN

~

  G U N U N G   E S  PEREMPUAN

Yang Terlihat Hanya Sepertiga — Dua Pertiga Tersembunyi di Kedalaman

Cerpen  |  8 Maret 2025


"Gunung es terlihat megah di permukaan. Yang tidak kamu tahu adalah betapa besar beban yang ia tanggung sendirian di bawah air — dalam keheningan, dalam dingin, dalam gelap."

— Anonim


I  Bunga di Meja Kerja

Jakarta, 7 Maret 2025. Pukul 23.17 malam.


Mawar merah itu sudah layu.


Sari tahu itu pasti pemberian dari Dani, suaminya, yang — seperti biasa — meletakkannya di meja kerja tanpa pesan apapun. Sebuah gestur romantis yang tampak indah dari luar. Tapi Sari tahu artinya: besok adalah Hari Perempuan Internasional, dan Dani sudah menunaikan kewajibannya.

Sari, tiga puluh delapan tahun, manajer keuangan di sebuah perusahaan multinasional, menatap laporan yang belum selesai di layar laptopnya. Jam menunjukkan hampir tengah malam. Di kamar sebelah, kedua anaknya sudah tidur — diantar tidur oleh asisten rumah tangga karena Sari masih di kantor hingga pukul sepuluh. Dani sendiri sudah tidur sejak pukul sembilan.

Di luar jendela, Jakarta bersinar seperti lanskap impian. Gedung-gedung pencakar langit berkilau. Mobil-mobil mengular dengan tertib di jalan tol. Semua terlihat baik-baik saja.



~ Di Bawah Permukaan ~

Semua terlihat baik-baik saja. Itu yang mereka lihat. Yang tidak mereka lihat: aku terakhir kali tidur tujuh jam penuh dua tahun yang lalu. Aku tidak ingat kapan terakhir makan siang tanpa sambil menatap layar. Aku tidak ingat kapan terakhir menangis — bukan karena tidak ada yang menyakitkan, tapi karena aku sudah tidak punya waktu untuk menangis.


Sari menutup laptopnya. Matanya tertuju pada mawar layu itu.

"Selamat Hari Perempuan — ucapan untuk dirinya sendiri, dalam hati. Tidak ada yang mendengar."


II  Yang Tampak di Permukaan

Kantor PT Merapi Gemilang, Lantai 22. 8 Maret 2025. Pukul 09.00.


Bunga-bunga itu tiba lebih awal dari para karyawan.

Resepsionis kantor — Tika, dua puluh tiga tahun, dengan hijab lavender yang rapi — sudah menyusun rangkaian bunga di setiap meja perempuan sebelum jam masuk. Spanduk besar bertuliskan 'HAPPY INTERNATIONAL WOMEN'S DAY' terpasang di lobby. HR sudah menjadwalkan sesi foto untuk konten media sosial perusahaan.

Pak Direktur Utama, Reza Mahendra, lima puluh dua tahun, tiba pukul sembilan tepat. Ia langsung menuju podium kecil yang sudah disiapkan di ruang rapat utama.


Pak Reza: "Rekan-rekan wanita kami yang luar biasa. Hari ini, kami merayakan keberanian, kecerdasan, dan kontribusi kalian yang tak ternilai bagi perusahaan. Kami bangga menjadi tempat kerja yang ramah perempuan."


Tepuk tangan. Foto. Tawa. Kue ulang tahun berbentuk bunga. Filter Instagram berbingkai mawar.

Sari duduk di barisan depan, tersenyum pada waktu yang tepat, bertepuk tangan dengan semangat yang tepat. Di sebelahnya, Wulan — rekan satu divisi yang juga sudah bekerja selama delapan tahun — berbisik:


Wulan: "Kamu ingat kan, presentasi budget Q2 kita tetap harus masuk ke Pak Reza sebelum jam satu siang?"

Sari: "Ingat. Aku sudah siapkan dari semalam."

Wulan: "Dari semalam? Kamu tidur jam berapa?"

Sari: "Tidur?"



~ Di Bawah Permukaan ~

Di panggung itu, Pak Reza berbicara tentang betapa perusahaan mendukung kesetaraan gender. Yang tidak ia sebut: bahwa dari dua puluh tiga posisi manajer senior di perusahaan ini, hanya empat yang perempuan. Bahwa dari empat itu, dua sedang hamil dan sudah berbisik-bisik tentang tekanan halus yang mereka rasakan. Bahwa gaji Sari, dengan jabatan yang sama dengan Arif, rekan laki-lakinya, masih terpaut delapan juta rupiah lebih rendah. Sari sudah tahu sejak lama. Ia tidak pernah mengatakannya.


III  Tika dan Lavender

Ruang Loker Karyawan. 8 Maret 2025. Pukul 12.15.


Tika sedang makan siang sendirian di pojok ruang loker.

Bukan karena tidak ada yang mengajaknya. Tapi karena ia butuh lima belas menit tanpa harus tersenyum pada siapapun.

Di ponselnya, ada pesan dari ibunya di Purwokerto:


"Nduk, kapan pulang? Bapak tanya-tanya terus. Katanya kamu kerja di Jakarta buat apa kalau ujung-ujungnya cuma jadi resepsionis. Mending nikah, punya anak, bapak sudah ada calon yang baik."


Tika menutup ponselnya.

Yang orang-orang tahu tentang Tika: ia resepsionis yang selalu ceria, hijabnya selalu rapi, suaranya selalu ramah di telepon. Wajahnya selalu tersenyum.



~ Di Bawah Permukaan ~

Yang tidak mereka tahu: aku diterima di tiga universitas di Surabaya dengan beasiswa penuh, tapi tidak jadi kuliah karena bapak sakit dan aku harus kerja. Aku membaca dua buku setiap bulan. Aku menabung untuk kuliah malam. Aku punya cita-cita yang bahkan belum pernah aku ucapkan dengan keras karena takut terdengar terlalu besar untuk seorang resepsionis dari Purwokerto. Aku dua puluh tiga tahun dan sudah terlalu sering diminta untuk menyesuaikan ukuran mimpinya dengan ukuran yang dianggap pantas oleh orang lain.


Pintu ruang loker terbuka. Sari masuk, mencari air minum.

Mereka bertatap mata. Sari melihat sesuatu di wajah Tika — sesuatu yang ia kenali, karena ia pernah juga punya wajah seperti itu.

Sari: "Kamu baik-baik saja?"

Tika akan menjawab 'baik-baik saja'. Ia sudah membuka mulut untuk mengatakannya.

Tapi entah mengapa, hari ini, ia tidak jadi.

Tika: "Tidak terlalu, Mbak. Tapi tidak apa-apa."

Sari duduk di bangku sebelahnya.

Sari: "Apa bedanya?"

Tika: "Saya tidak tahu, Mbak. Rasanya seperti... menyimpan terlalu banyak di dalam, sampai sudah tidak muat lagi."

Sari diam sejenak. Kemudian mengangguk pelan.

Sari: "Gunung es."

Tika: "Mbak?"

Sari: "Kamu pernah dengar teori gunung es? Yang tampak di atas air hanya sepuluh persen. Delapan puluh persen sisanya — yang berat, yang besar, yang sesungguhnya — tersembunyi di bawah. Orang-orang hanya melihat puncaknya. Mereka tidak tahu betapa besar yang kamu pikul di bawah sana."


IV  Bu Ratih dan Lima Belas Tahun

Rumah Di Gang Sempit, Cipinang Muara. 8 Maret 2025. Sore hari.


Bu Ratih, lima puluh satu tahun, membuka lapak gorengan tepat pukul tiga sore — seperti biasa, seperti setiap hari selama lima belas tahun terakhir.

Di feed Instagram, ia melihat foto-foto perayaan Hari Perempuan Internasional. Perempuan-perempuan cantik dengan bunga dan spanduk dan kalimat-kalimat inspiratif. Ia memandangi sebentar, lalu menutup ponselnya.

Di depannya: wajan besar dengan minyak mendidih. Di belakangnya: kontrakan dua kamar yang ia huni bersama dua anak perempuannya. Suami pergi tujuh tahun lalu, meninggalkan hutang yang hampir setengah miliar.

Bu Ratih tidak pernah membicarakan ini.

Yang orang-orang di sekitarnya tahu: Bu Ratih adalah pedagang gorengan yang rajin, ramah, selalu menyapa dengan senyum, tidak pernah mengeluh.



~ Di Bawah Permukaan ~

Yang tidak mereka tahu: dua tahun lalu aku hampir tidak bisa membayar uang sekolah anakku yang bungsu. Aku tidak tidur selama tiga malam berturut-turut memikirkan cara mendapatkan uangnya. Aku pernah berdiri di depan jembatan suatu malam — bukan untuk melompat, tapi hanya untuk... diam sebentar di tepi, merasakan angin, dan mengatakan kepada diri sendiri: kamu belum selesai. Kamu belum boleh berhenti. Anak-anakmu masih butuh kamu. Lalu aku pulang dan menggoreng pisang pukul empat pagi untuk persiapan jualan hari berikutnya.


Pelanggan pertamanya datang — Pak Udin, tukang ojek.

Pak Udin: "Selamat Hari Perempuan ya, Bu Ratih! Perempuan hebat!"

Bu Ratih tertawa kecil.

"Iya, Pak. Makasih — sambil menyerahkan bungkusan gorengan."

Pak Udin pergi. Bu Ratih mengaduk adonan.

Di telapak tangannya yang kasar, ada keriput yang sudah mulai dalam. Ada bekas minyak yang tidak bisa hilang meski sudah dicuci berkali-kali.

Itu yang tampak di permukaan.

Yang tidak tampak: lima belas tahun keberanian. Lima belas tahun bangun sebelum subuh. Lima belas tahun memilih untuk tetap bertahan meski setiap tahun ada alasan yang cukup kuat untuk menyerah.


V  Ruang Rapat Lantai 22, Pukul 14.00

Kembali ke kantor Sari. Rapat Direksi.


Sari mempresentasikan proyeksi keuangan Q2 dengan tenang dan presisi. Setiap angka ia kuasai. Setiap pertanyaan ia jawab dengan tepat.

Ketika selesai, Pak Reza mengangguk puas.

Pak Reza: "Bagus, Sari. Seperti biasa. Kamu memang andalan kita."

Andalan. Kata itu terdengar seperti pujian. Tapi Sari sudah tahu artinya yang sesungguhnya: kamu bisa diandalkan untuk bekerja lebih keras dari yang dibayar.

Lalu Pak Reza menoleh ke Arif, rekan laki-laki Sari.

Pak Reza: "Arif, gimana proyek ekspansi ke Surabaya? Ini akan jadi langkah besar. Butuh pemimpin yang kuat."

Sari menatap meja. Proyek ekspansi Surabaya — yang sudah ia siapkan business plan-nya selama enam bulan. Yang sudah ia presentasikan dalam rapat terbatas dua bulan lalu. Yang ternyata kemudian 'dialihkan' kepada Arif dengan alasan Arif 'lebih mobile.'

Arif lebih mobile. Artinya: Arif tidak punya anak. Artinya: Arif bisa langsung terbang ke Surabaya kapanpun tanpa harus memikirkan siapa yang akan jemput anak dari sekolah.

Sari tidak berkata apa-apa.



~ Di Bawah Permukaan ~

Aku ingin berdiri dan berkata: business plan itu milikku. Enam bulan kerja. Ratusan jam. Puluhan revisi. Tapi aku tidak akan melakukannya karena aku sudah tahu apa yang akan terjadi: aku akan dicap sebagai perempuan yang tidak bisa profesional, yang terlalu emosional, yang tidak bisa membedakan ego dan kerja. Jadi aku diam. Seperti yang sudah-sudah. Seperti yang selalu-selalu. Dan sepertiga puncak gunung esku tersenyum dengan manis kepada ruangan.


Rapat selesai. Orang-orang berdiri.

Wulan menyentuh lengan Sari pelan.

Wulan: "Kamu baik-baik saja?"

Sari menatap mejanya sebentar. Lalu mengangkat wajah.

Sari: "Aku lelah, Wul."

Wulan: "Pulang cepat hari ini. Anak-anak pasti kangen."

Sari: "Bukan itu maksudku. Maksudku... aku lelah pura-pura tidak apa-apa terus. Aku lelah menjadi gunung es yang semua orang kagumi puncaknya tapi tidak ada yang mau tahu betapa dinginnya bagian bawahnya."


Wulan diam. Karena ia mengerti. Karena ia juga gunung es yang sama.


VI  Percakapan di Tangga Darurat

Gedung PT Merapi Gemilang. Tangga Darurat Lantai 22. Pukul 17.45.


Tidak ada yang tahu bahwa dua kali seminggu, Sari naik ke tangga darurat untuk diam sendirian selama lima menit sebelum pulang.

Bukan untuk menangis. Bukan untuk melamun.

Hanya untuk menjadi dirinya sendiri — bukan manajer, bukan istri, bukan ibu, bukan andalan — selama lima menit saja.

Hari ini, ketika ia membuka pintu tangga darurat, seseorang sudah ada di sana.

Tika.

Resepsionis itu duduk di anak tangga, memeluk lututnya, earphone di telinga. Ia tidak mendengar Sari masuk.

Sari hampir mundur. Tapi kemudian ia duduk di anak tangga yang sama, dua langkah lebih tinggi.

Tika menoleh kaget. Lalu, karena tidak tahu harus bereaksi apa terhadap atasannya yang tiba-tiba duduk di tangga darurat, ia mencabut earphone-nya.

Tika: "Mbak Sari?"

Sari: "Tempat rahasiamu juga?"

Tika: "Maaf, Mbak, kalau—"

Sari: "Tidak apa-apa. Kita bisa berbagi."


Mereka diam beberapa saat. Suara generator dan angin di sela-sela bangunan menjadi latar.


Tika: "Mbak, boleh saya tanya sesuatu?"

Sari: "Boleh."

Tika: "Mbak Sari sudah sampai di posisi ini — manajer senior, semua orang respek. Apakah... apakah semuanya jadi lebih mudah?"


Sari tertawa kecil. Bukan tawa pahit. Bukan tawa sinis. Tawa yang lahir dari pengakuan jujur.


Sari: "Tika, kamu pernah lihat gunung es dari dekat?"

Tika: "Belum, Mbak."

Sari: "Yang tampak di atas air — itu yang orang-orang lihat. Itulah yang mereka foto, yang mereka kagumi, yang mereka katakan 'luar biasa' dan 'menginspirasi.' Mereka tidak tahu bahwa sembilan puluh persen gunung es itu ada di bawah air. Dalam dingin. Dalam gelap. Tidak kelihatan. Dan semakin besar yang di bawah, semakin megah yang di atas terlihat."

Tika: "Jadi... semakin sukses seseorang, semakin besar yang tersembunyi di bawahnya?"

Sari: "Bukan hanya tentang sukses. Tentang semua perempuan yang aku kenal. Bu Ratih di bawah — tukang gorengan di lantai satu — ia punya gunung es yang mungkin sepuluh kali lebih besar dari punyaku. Kamu punya gunung esmu sendiri. Yang bedanya, masyarakat kita pandai sekali memuji puncak gunung es perempuan, dan pada saat yang sama berpura-pura tidak tahu bahwa ada beban luar biasa di bawah permukaannya."



~ Di Bawah Permukaan ~

Yang tidak pernah aku ceritakan kepada siapapun: dua tahun lalu, ketika proyek terbesarku gagal karena sabotase halus dari rekan laki-laki yang tidak mau tersaingi, aku menangis di toilet kantor selama dua puluh menit lalu keluar dan menyelesaikan presentasi dengan sempurna. Semua orang tahu presentasinya sempurna. Tidak ada yang tahu soal toilet itu. Itulah gunungku. Yang tampak hanya ujungnya.


VII  Malam 8 Maret

Rumah Sari. Setelah Isya.


Sari pulang pukul delapan.

Dani sudah di sofa, menonton berita olahraga. Anak-anak sudah mandi dan sedang belajar di kamar.

Dani menoleh.

Dani: "Eh, pulang. Lapar? Ada nasi goreng sisa tadi."

Sari meletakkan tasnya. Duduk di sofa sebelah Dani.

Sari: "Dani."

Dani: "Hmm?"

Sari: "Aku ingin cerita sesuatu."

Dani mematikan televisi. Mungkin ada sesuatu dalam nada suara Sari yang berbeda. Sesuatu yang terasa tidak biasa.

Dani: "Ada apa?"


Sari menarik napas.


Selama dua belas tahun pernikahan, Sari selalu menjawab 'tidak apa-apa' ketika Dani bertanya apakah ia baik-baik saja. Bukan karena tidak ada yang salah. Tapi karena ia sudah terbiasa menyelesaikan segalanya sendiri. Karena ia tidak ingin dianggap lemah. Karena ia takut kalau ia mulai bercerita, ia tidak akan bisa berhenti.

Hari ini, setelah percakapan di tangga darurat itu, sesuatu bergeser.


Sari: "Kamu tahu, tadi siang ada proyek yang harusnya milikku diberikan ke Arif. Bukan karena Arif lebih kompeten. Tapi karena aku punya anak dan Arif tidak. Itu sudah yang keempat kalinya dalam tiga tahun terakhir. Dan aku tidak pernah bercerita padamu karena aku pikir aku harus bisa menangani ini sendiri."

Dani: "Sar—"

Sari: "Tunggu dulu. Aku ingin selesai dulu. Aku juga ingin kamu tahu bahwa malam-malam ketika aku pulang terlambat — itu bukan karena aku memilih kantor daripada keluarga. Itu karena aku memikul standar ganda yang tidak pernah kamu rasakan: harus seserius laki-laki di kantor, tapi juga harus se-perempuan yang baik di rumah. Dua penuh sekaligus. Setiap hari."


Dani diam lama.

Sari menunggu pembelaan, atau penjelasan, atau bahkan sedikit saja rasa tidak suka.

Yang datang adalah tangan Dani — menggenggam tangan Sari.

Dani: "Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu sebanyak itu."

Sari: "Itulah gunungnya, Dani. Bagian terbesar tidak pernah terlihat."

Dani: "Maafkan aku."


Sari tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kata-kata itu duduk sebentar di ruangan.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia menangis.

Bukan karena lemah. Tapi karena akhirnya ada yang benar-benar melihat ke bawah permukaan.


VIII  Keesokan Harinya — 9 Maret

Kantor. Pagi. Langit cerah.


Sari datang lebih awal dari biasanya.

Ia mampir ke meja Tika di lobby.

Sari: "Tika, aku dengar kamu tertarik untuk kuliah malam."

Tika terkejut.

Tika: "Mbak tahu dari mana?"

Sari: "Aku dengar dari... feeling."

Tika tertawa kecil.

Sari: "Ada program beasiswa internal yang jarang diumumkan ke karyawan non-manajerial. Aku akan pastikan kamu mendapatkan informasinya. Tapi kamu harus janji satu hal."

Tika: "Apa, Mbak?"

Sari: "Jangan simpan semuanya di bawah permukaan sendirian. Sesekali, ceritakan. Kepada orang yang tepat. Bagian yang berat juga perlu saksi."


Tika mengangguk. Matanya sedikit berkaca.


Sari naik lift ke lantai dua puluh dua.

Di dalam tasnya: surat. Bukan surat pengunduran diri. Tapi surat resmi kepada Pak Reza — meminta penjelasan tertulis atas keputusan alokasi proyek Surabaya, berdasarkan data kompetensi yang ada.

Pertama kalinya dalam tiga tahun, sesuatu dari bawah permukaan itu naik ke atas.

Perlahan. Dengan tenang. Tapi dengan keyakinan penuh.


IX  Epilog: Di Bawah Sana

Suatu hari, di tempat-tempat yang berbeda.


Bu Ratih menutup lapaknya lebih awal dari biasanya.

Ia masuk ke kontrakannya. Duduk di meja kecil. Membuka notebook lusuh yang sudah bertahun-tahun tidak ia buka.

Di dalamnya: catatan bisnis. Impian tentang warung makan kecil yang proper. Kalkulasi sederhana. Nama-nama menu.

Ia mulai menulis lagi.


Tika mendaftar program kuliah malam. Formulirnya ia isi dengan tangan yang sedikit gemetar — bukan karena ragu, tapi karena ini pertama kalinya ia menuliskan mimpinya di atas kertas resmi.


Sari menerima balasan surat dari Pak Reza: undangan rapat empat mata untuk 'mendiskusikan kekhawatiran' Sari. Belum ada jaminan apapun. Tapi ini permulaan.


Dan di mana-mana — di dapur, di kantor, di pasar, di tangga darurat gedung-gedung, di toilet-toilet yang menjadi tempat menangis sebentar sebelum kembali tersenyum — jutaan perempuan menyimpan gunung es mereka.

Sebagian besar masih tersembunyi.

Masih dalam dingin. Masih dalam gelap. Masih menahan beban yang tidak kelihatan dari permukaan.


Tapi ada yang bergeser hari ini.

Seperti gunung es yang perlahan mengapung naik — didorong oleh arus yang tidak tampak, oleh kehangatan yang datang dari bawah — ada bagian-bagian yang mulai muncul ke permukaan.

Perlahan. Tapi pasti.


* * * * *


Gunung es tidak pernah hanya tentang yang terlihat.


Ia tentang kekuatan yang bertahan tanpa sorak-sorai.


Tentang beban yang dipikul tanpa tanda.


Tentang keberanian yang tidak pernah difoto untuk Instagram.


* * * * *


Selamat Hari Perempuan Internasional.

Untuk semua gunung es di luar sana —

Yang tampak maupun yang tersembunyi.

Yang dirayakan maupun yang tidak pernah sempat diakui.

Yang sudah berani bersuara maupun yang masih menunggu waktu yang tepat.


Kalian nyata. Kalian cukup. Kalian — seluruhnya, bukan hanya puncaknya — adalah luar biasa.


Catatan Penulis

Cerpen ini terinspirasi dari kehidupan nyata jutaan perempuan Indonesia yang setiap harinya memikul beban yang jauh lebih besar dari yang terlihat — di rumah, di tempat kerja, di komunitas, di ruang-ruang publik. Fenomena 'gunung es' ini adalah realita yang dirasakan: bahwa semakin kuat seorang perempuan terlihat, semakin besar kemungkinan ada sesuatu yang berat yang ia tanggung sendirian di bawah permukaan itu. Cerita ini adalah undangan untuk melihat lebih dalam — dan untuk menciptakan ruang yang aman bagi perempuan untuk tidak selalu baik-baik saja.

8 Maret 2025  |  Hari Perempuan Internasional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Sastra Sunda Menuju Panggung Nobel: Analisis Potensi dan Tantangan

Mimpi Besar dari Tanah Sunda

Drama Novelet Awal : Perjuangan yang Belum Selesai