Postingan

Cerpen : Pulang ke Pangkuan Rindu

Pulang ke Pangkuan Rindu Cerpen oleh: Asroh  Azan Subuh baru saja selesai berkumandang ketika Hendra menutup laptopnya dengan napas panjang. Layar menunjukkan pukul 04.47 WIB. Di sudut monitor, notifikasi terakhir dari bosnya masih berkedip — "Deadline proposal sebelum kamu mudik, Hen." Ia bersandar ke kursi. Di luar jendela apartemennya di lantai dua belas, Jakarta belum sepenuhnya terjaga, tapi lampu-lampu jalan sudah berlomba dengan cahaya fajar. Dua puluh hari Ramadan telah ia jalani di kota ini — berpuasa sendiri, berbuka sendiri, tarawih sendiri di mushola kecil dekat minimarket. Tahun ini harus pulang, batinnya. Harus. Perjalanan dari Jakarta ke Wonogiri bukan perkara mudah di hari-hari seperti ini. Lebaran 1447 Hijriah jatuh pada akhir Maret, dan seluruh anak bangsa seolah sepakat untuk bergerak bersama — jutaan jiwa yang digerakkan oleh satu magnet bernama kampung halaman. Hendra memilih bus malam, dua hari sebelum Lebaran. Ia tak mampu membeli tiket kereta yang suda...

G U N U N G E S PEREMPUAN

~   G U N U N G   E S  PEREMPUAN Yang Terlihat Hanya Sepertiga — Dua Pertiga Tersembunyi di Kedalaman Cerpen  |  8 Maret 2025 "Gunung es terlihat megah di permukaan. Yang tidak kamu tahu adalah betapa besar beban yang ia tanggung sendirian di bawah air — dalam keheningan, dalam dingin, dalam gelap." — Anonim I  Bunga di Meja Kerja Jakarta, 7 Maret 2025. Pukul 23.17 malam. Mawar merah itu sudah layu. Sari tahu itu pasti pemberian dari Dani, suaminya, yang — seperti biasa — meletakkannya di meja kerja tanpa pesan apapun. Sebuah gestur romantis yang tampak indah dari luar. Tapi Sari tahu artinya: besok adalah Hari Perempuan Internasional, dan Dani sudah menunaikan kewajibannya. Sari, tiga puluh delapan tahun, manajer keuangan di sebuah perusahaan multinasional, menatap laporan yang belum selesai di layar laptopnya. Jam menunjukkan hampir tengah malam. Di kamar sebelah, kedua anaknya sudah tidur — diantar tidur oleh asisten rumah tangga karena Sari masih d...

ECHO CHAMBER : Drama Fiksi Ilmiah dalam 5 Babak

ECHO CHAMBER Drama Fiksi Ilmiah dalam 5 Babak                                                             KARAKTER UTAMA MAYA CHEN (28) - Influencer media sosial dengan 10 juta pengikut, sukses namun merasa hampa JAX TORRES (32) - Hacker berbakat yang bekerja untuk NeuroLink Corp, memiliki hati nurani LENA OKAFOR (30) - Aktivis digital rights, mantan karyawan tech company DR. SARAH ZHANG (45) - Psikolog dan peneliti dampak teknologi pada kesehatan mental                                                                  BABAK I: REFLEKSI DIGITAL SCENE 1 - STUDIO MAYA Setting: Apartemen mewah Maya dengan setup streaming profesional. Layar menampilkan angka followers yang terus ber...

Perjalanan Sastra Sunda Menuju Panggung Nobel: Analisis Potensi dan Tantangan

Perjalanan Sastra Sunda Menuju Panggung Nobel: Analisis Potensi dan Tantangan    Sastra Sunda, sebagai cerminan kekayaan budaya masyarakat Jawa Barat dan Banten, telah menempuh perjalanan panjang dari tradisi lisan hingga bentuk modern. Meskipun memiliki akar yang kuat dan sejumlah karya monumental, perjalanannya menuju pengakuan global, khususnya Hadiah Nobel Sastra, masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Artikel ini akan menganalisis potensi dan hambatan sastra Sunda dalam mencapai panggung dunia, berdasarkan sejarah, karya ikonik, kriteria Nobel, pandangan pakar, serta strategi yang dapat ditempuh.      1. Sejarah dan Karakteristik Sastra Sunda    Sastra Sunda merupakan salah satu cabang sastra daerah di Indonesia yang mencerminkan warisan budaya masyarakat Sunda. Keberadaannya sudah ada sejak berabad-abad lalu dan memainkan peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai, tradisi, serta kehidupan sehari-hari masyarakatnya . Bahasa Sunda lisan sendi...

Wawacan: Menemukan Semesta Kemanusiaan dalam Lirik Sunda dan Peluang Nobel Sastra yang Glokal

Gambar
Wawacan: Menemukan Semesta Kemanusiaan dalam Lirik Sunda dan Peluang Nobel Sastra yang Glokal                                                                              Gambar sampul buku yang bertuliskan "Wawacan: Sebuah Genre Sastra Sunda" Karya Ruhaliah, penerbit Pustaka Jaya, bukan sekadar pengenalan terhadap sebuah bentuk sastra lama. Ia adalah pintu masuk ke sebuah khazanah pemikiran yang dalam, tempat nilai-nilai universal dan kemanusiaan berkelindan dalam kemasan estetika bahasa dan budaya Sunda. Wawacan, yang sering kali berbentuk puisi naratif dan dilagukan, bukan hanya warisan masa lalu yang statis, melainkan sebuah reservoir nilai yang relevan untuk menjawab tantangan global masa kini dan masa depan, bahkan membuka peluang untuk diapresiasi pada tingkat tertinggi, sepe...

Drama Novelet Awal : Perjuangan yang Belum Selesai

Gambar
Drama Novelet Awal : Perjuangan yang Belum Selesai Bab 1: Percikan Api di Warung Kopi Asap rokok kretek Kang Dedi menari tipis di udara lembap sebuah warung kopi di pinggiran Bandung. Matanya yang lelah menatap Rian, keponakannya, yang sedari tadi mengetik dengan amarah terkendali di laptopnya. Di layar, sebuah poster digital mulai terbentuk: kepalan tangan mencengkeram Kujang, di bawahnya tulisan besar “Jabar Lain Keur Kaulinan!” (Jawa Barat Bukan Untuk Mainan!). “Mikirkeun naon, Jang? Muka anjeun kusut kitu,” tegur Kang Dedi, suaranya serak. “Biasa, Mang. Para ménak keur arulin deui,” jawab Rian tanpa mengalihkan pandangan. “Biasa, Mang. Para elite sedang bermain lagi.” Kang Dedi tersenyum tipis, senyum yang tak pernah sampai ke matanya. “Ti baheula gé kitu. Nu arulin mah angger maranéhna.” (Dari dulu juga begitu. Yang bermain ya tetap mereka). Pintu warung berderit. Sari, teman aktivis Rian, masuk dengan wajah masam, melemparkan ponselnya ke meja. “Gila! Baca ieu. Pabrik...

Rekam Medis yang Tersesat

Gambar
Rekam Medis yang Tersesat Malam di Baleendah turun pelan seperti kelambu kusam. Di ruang IGD yang sempit, lampu putih menggantung—berkedip halus seperti nadi yang lelah. Dika memeluk map cokelat yang semakin lecek di tangannya. Di dalamnya, hasil rontgen, lab, dan surat rujukan dari rumah sakit sebelumnya. Dokter jaga menatap layar komputer yang kosong dari jejak Dika. “Datanya tidak terbaca di sistem, Pak. Rumah sakit rujukan pakai aplikasi lain,” katanya, datar. Dika menelan kecewa. “Baru tiga jam lalu kami diinfus di kota sebelah. Masa harus diulang semua?” Perawat menghela napas seraya meminta KTP, kartu jaminan kesehatan, foto kopi KK, dan—entah mengapa—foto diri terkini. Seolah-olah nyawa diukur dari kertas. Di ranjang, ibu Dika, Bu Rukmi, menahan nyeri. Jarum infus menetes ragu, seperti menunggu izin. Ambulans tadi mencumbui jalan provinsi yang berlubang, melampaui spanduk “Pelayanan Kesehatan Gratis” yang memudar. Di bawahnya, pedagang cilok menatap, seperti ta...